Senin, 02 Maret 2020

INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN INOVASI GURU DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Cybergogy merupakan teori dan praktik mengajar di dunia virtual.

Ada lima indikator pada cybergogy, yaitu:
  1. Belajar mandiri berbantuan teknologi digital
  2. Proses belajar kolaboratif
  3. Faktor kognitif
  4. Faktor emotif, dan
  5. Faktor sosial
Untuk mengembangkan instrument penilaian Cybergogy, kelima indikator harus tercakup dalam penilaian. Adapun instrumen penilaian Cybergogy yang telah saya buat adalah sebagai berikut:



Pedoman Penskora kemampuan Cybergogy:

Skor Maksimal : 5 x 3 = 15
Skor Minimal   : 0
Rentang            : (15 - 0)/3 = 5

Rentang Nilai
Persentase
Kriteria
0 – 5
0 % – 33 %
Kurang Baik
6 – 10
34 % - 66 %
Baik
11 - 15
67 % - 100 %
Sangat Baik

Setelah membuat instrumen, selanjutnya instrumen penilaian Cybergogy diujicoba dengan melakukan pengamatan pada video pembelajaran:

https://www.youtube.com/watch?v=dGsWpCgL2MQ

Hasil ujicoba sebagai berikut:



Dari hasil ujicoba didapatkan nilai 8, sehingga dapat dikatakan guru sudah menerapkan cybergogy dengan baik.

Selasa, 25 Februari 2020

INSTRUMEN PENILAIAN KEATIFITAS DALAM PRAKTIKUM

Dalam postingan kali ini, akan kita bahas mengenai pengembangan instrumen penialain praktikum. Instrumen penilaian yang dikembangkan mengacu kepada indikator-indikator berpikir kreatif, yaitu:

  1. Problem Sensitivity
  2. Fluency
  3. Flexibility
  4. Originality
  5. Elaboration
Berdasarkan kisi-kisi pada artikel sebelumnya kemudian disusun instrumen penilaian:

Aspek Penilaian
Indikator
Skor
Problem Sensitivity (√/-)
Fluency
(√/-)
Flexibility
(√/-)
Originality
(√/-)
Elaboration
(√/-)
Merangkai alat uji coba larutan   elektrolit dan non elektrolit
Mengenali jenis-jenis alat yang akan digunakan
[    ]
Cekatan dalam merangkai alat uji coba 
[    ]
Menggunakan elektroda lain (paku, koin, dll)
[    ]
Memilih elektroda yang tepat dan aman
[    ]
Menyiapkan baterai cadangan
[    ]
Menyiapkan Larutan
Mengenali sifat dan karakteristik dari larutan
[    ]
Cekatan dalam memindahkan larutan ke dalam wadah
[    ]
Menggunakan wadah yang berbeda (gelas minuman, plastik transparan, dll)
[    ]
Memilih wadah larutan yang tepat dan aman
[    ]
Memberikan etiket label
[    ]
Menguji Larutan
Mengenali karakteristik dari larutan elektrolit dan non elektrolit
[    ]
Menentukan jenis larutan dengan cepat dan tepat
[    ]
Mengelompokkan larutan ke dalam jenis yang sama
[    ]
Menentukan larutan elektrolit dan non elektrolit dengan cara yang berbeda dengan tepat
[    ]
Mencatat hasil pengamatan
[    ]
Total

 dengan kriteria:
     1-3     = Tidak Kreatif
     4-6     = Kurang Kreatif
     7-9     = Cukup Kreatif
     10-12 = Kreatif
     13-15 = Sangat Kreatif

Instrumen diatas diujicoba dengan mengamati video: https://www.youtube.com/watch?v=E7d8XDhTvo4, adapun hasil ujicoba sebagai berikut:

Aspek Penilaian
Indikator
Skor
Problem Sensitivity (√/-)
Fluency
(√/-)
Flexibility
(√/-)
Originality
(√/-)
Elaboration
(√/-)
Merangkai alat uji coba larutan   elektrolit dan non elektrolit
-
 4
Menyiapkan Larutan
-
-
 3
Menguji Larutan
-
-
 3
Total
10

Dari hasil ujicoba didapatkan nilai Total 10, dengan kriteria kreatif.

Selasa, 18 Februari 2020

KISI-KISI INSTRUMEN PENILAIAN KREATIVITAS PRAKTIKUM KIMIA

Kisi-kisi instrumen penilaian kreativitas praktikum kimia ini dibuat dengan mengamati terlebih dahulu video praktikum yang ada di youtube. Adapun videonya terdapat pada link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=E7d8XDhTvo4

Setelah mengamati video disusun pertanyaan berdasarkan aspek berpikir kreatif. Dimana dalam berpikir kreatif terdapat 5 indikator, yaitu:
  1. Fluency (Kelancaran)
  2. Fleksibility (Keluwesan)
  3. Originalitas (Keaslian)
  4. Problem Sensitivity (Kepekaan Masalah)
  5. Elaboration (Elaborasi)
Tabel Berpikir Kreatif:

Aspek
Indikator
Deskripsi
Berpikir Kreatif
Problem Sensitivity
Kemampuan mendeteksi, mengenali, dan memahami serta menanggapi suatu pernyataan, situasi, atau masalah
Fluency
Kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan
Flexibility
Kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah
Originality
Kemampuan untuk mencetuskan gagsan dengan cara-cara yang asli, tidak klise, dan jarang diberikan kebanyakan orang
Elaboration
Kemampuan menambah suatu situasi atau masalah sehingga menjadi lengkap, dan merincinya secara detail, yang didalamnya terdapat berupa tabel, grafik, gambar, model dan kata-kata.

Tabel Kisi-Kisi Instrumen Penilaian Kreatifitas dalam Praktikum Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit:
Aspek Penilaian (Percobaan larutan elektrolit dan non elektrolit)
Indikator
Problem Sensitivity
Fluency
Flexibility
Originality
Elaboration
Merangkai alat uji coba larutan elektrolit dan non elektrolit
Mengenali jenis-jenis alat yang akan digunakan
Cekatan dalam merangkai alat uji coba
Menggunakan elektroda lain (paku, koin, dll)
Memilih elektroda yang tepat dan aman
Menyiapkan baterai cadangan
Menyiapkan Larutan
Mengenali sifat dan karakteristik dari larutan
Cekatan dalam memindahkan larutan ke dalam wadah
Menggunakan wadah yang berbeda (gelas minuman, plastik transparan, dll)
Memilih wadah larutan yang tepat dan aman
Memberikan etiket label
Menguji Larutan
Mengenali karakteristik dari larutan elektrolit dan non elektrolit
Menentukan jenis larutan dengan cepat dan tepat
Mengelompokkan larutan ke dalam jenis yang sama
Menentukan larutan elektrolit dan non elektrolit dengan cara yang berbeda dengan tepat
Mencatat hasil pengamatan

Rabu, 12 Februari 2020

INSTRUMEN PENILAIAN INDIKATOR DIFFUSIVITY

Diffusivity atau penyederhanaan konsep secara difusi merupakan indikator dari aspek teknologi. Penyederhanaan konsep disini dimaksudkan agar peserta didik lebih mudah memahami konsep yang diajarkan tanpa menghilangkan aspek teknologi. Contohnya penggunaan media terintegrasi saat pembelajaran seperti power point menggunakan hyperlink menuju situs web yang berisi konsep-konsep pembelajaran baik berupa teks maupun video animasi agar memudahkan guru menyampaikan konsep pembelajaran dibanding dengan pembelajaran konfensional.


Berikut contoh kisi-kisi untuk indikator Diffusivity pada aspek teknologi:

Aspek
Indikator
Deskripsi
Bentuk Soal
Teknologi (Technology)
Penyederhanaan Konsep secara Difusi (Diffusifity)
Menggunakan teknologi berupa PPT untuk menyederhanakan konsep kimia (larutan elektrolit dan non elektrolit) sehingga konsep lebih mudah untuk dipahami
Essay

Setelah menyusun kisi-kisi dilanjutkan dengan penyusunan soal dan rubrik penilaian.

Indikator
Deskripsi
Soal
Jawaban
Penyederhanaan Konsep secara Difusi (Diffusifity)
Menggunakan teknologi berupa PPT untuk menyederhanakan konsep kimia (larutan elektrolit dan non elektrolit) sehingga lebih mudah untuk dipahami
Dari hasil pengamatan video pada media, tentukan yang mana larutan elektrolit dan larutan non elektrolit! Mengapa?
Penggunaan teknologi: 
Penyederhanaan Konsep:
Hasil Pengamatan:
Menggunakan Ms. Excel yang terhubung ke Ms. Point untuk membuat jawaban dari pertanyaan
Kemudian instrumen diujicoba, soal diberikan dari File PPT. Berikut hasil Ujicoba yang dilakukan:



Dari hasil ujicoba, siswa langsung mengerjakan di Ms. Power Point yang terintegrasi dengan Ms. Excel.

Senin, 10 Februari 2020

KISI-KISI PENILAIAN DISRUPTIVE INNOVATIONS

Perubahan melalui disruptive innovation sudah banyak membawa dampak positif terutama dibidang teknologi. Bidang pendidikan juga ikut terpengaruh dengan adanya disruptive innovation, contohnya semakin banyaknya kelas online baik berupa laman web ataupun aplikasi. Perubahan seperti ini tentu saja berpengaruh positif terhadap dunia pendidikan, dengan semakin mudahnya pelajar untuk belajar. Hanya saja lebih banyak disruptive innovation di bidang pendidikan tidak dilakukan oleh pelaku pendidikan. Contohnya Ruang Guru dikembangkan bukan oleh pelaku pendidikan meskipun bergerak di bidang pendidikan.

Guru selaku pendidik juga dapat melakukan disruptive innovation seperti pada pembuatan kisi-kisi penilaian. Menurut Jianfeng, Dkk. 2019 kisi-kisi penilaian disruptive innovation dikembangkan dengan memperhatikan 3 aspek, yaitu:

1. Teknologi
2. Dinamika Kebutuhan Belajar
3. Lingkungan Eksternal




Kamis, 28 November 2019

SEMANTIC NETWORK PADA PEMBELAJARAN KIMIA

Pengertian Semantik  Secara etimologis, arti semantik berasal dari kata Yunani sema yang merupakan kata benda yang berarti 'tanda' atau 'simbol' dan samaino (kata kerja) yang memiliki arti "tanda" atau "melambangkan". Sedangkan istilah semantik dalam terminologi adalah studi tentang simbol atau tanda yang mengungkapkan makna, hubungan makna satu sama lain, dan hubungan antara kata-kata dengan konsep atau makna kata.
Semantic network adalah representasi yang mengekspresikan solusi permasalahan dengan menggunakan network (graph berarah). Di dalamnya menggunakan node (simpul) untuk merepretasikan suatu kondisi, dan arc (link) untuk merepretasikan relasi antar simpul. Semantic network ini adalah representasi yang bersifat :
1.      Lexically, di dalamnya terdapat node(simpul), link dan batasan-batasan khusus dari permasalahan
2.     Structurally, masing-masing link akan terkoneksi dari simpul yang paling depan(head node) sampai simpul yang paling belakang (tail node).
3.     Semantically, semua simpul dan link merepretasikan permasalahan tetap berada dalam batasannya.

Berikut ini contoh dari semantic network pada sel elektrokimia:


Semantic network ini menggambarkan proses pembelajaran pada materi sel elektrokimia, mulai dari sumber belajar hingga proses evaluasi berupa quiz. Namun ada3 hal masalah yang muncul dari semantic network diatas, yaitu:
1. Contoh sel volta dan sel elektrolisis dalam kehidupan sehari-hari
2. Sumber belajar yang dapat digunakan selain buku dan internet
3. Reward yang di dapatkan kelompok pemenang pada saat quiz

Kamis, 19 September 2019

DISRUPTIVE INNOVATION LEARNING


Disruptive Innovation Learning merupakan Laman Web yang bisa digunakan sebagai tempat pembelajaran online. Didalamnya terdapat banyak menu untuk menyiapkan pembelajaran ataupun melakukan proses pembelajaran baik sebagai guru maupun sebagai peserta didik.

Sebelum melakukan pembelajaran seorang guru terlebih dahulu menyiapkan Rencana Proses Pembelajaran (E-Lesson Plan). Setelah RPP disiapkan guru membuka pembelajaran pada menu E-DO EDU dan mengecek kehadiran peserta didik. Setelah peserta didik online dalam pembelajaran, pembelajaran bisa dimulai.
Pada laman pembelajaran guru bisa berinteraksi dengan peserta didik pada Komentar Kelas seperti gambar diatas. Selain itu guru juga bisa mengirimkan bahan ajar (Video, Animasi, dll) serta tugas pada laman pembelajaran.

Pembelajaran ini membahas materi mengenai asam basa.
Pada awal pembelajaran guru mengirimkan video sebagai pendahuluan. Guru hanya mengirimkan link video karena ukuran video yang terlalu besar untuk dikirimkan melalui Disruptive Innovation Learning. Video yang dikirimkan merupakan video seseorang melakukan percobaan mengenai asam basa menggunakan indikator sederhana.
Setelah peserta didik menonton video, guru menanyakan permasalahan "Apakah ada indikator lain dalam kehidupan sehari-hari yang dapat digunakan sebagai indikator untuk mengidentifikasi asam dan basa?"
Peserta didik merespon sesuai dengan pengetahuannya. Kemudian guru menugaskan kepada peserta didik untuk mencari atau menemukan indikator yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Setelah peserta didik menemukan indikator-indikator apa saja yang dapat digunakan, guru kembali menugaskan peserta didik untuk melakukan percobaan menggunakan indikator yang telah ditemukan sebelumnya dan mengirimkan laporan percobaan melalui blog.






Setelah guru mengecek laporan melalui web, dilakukan evaluasi. Evaluasi yang diberikan berupa soal yang dikemas dalam bentuk TTS.


Ada kendala dalam pemberian evaluasi ini, peserta didik tidak dapat membuka file TTS secara langsung melalui laman pembelajaran pada Disruptive Innovation Learning. Sehingga guru mengirimkan file dan meminta jawaban melalui aplikasi Whatsapp.



Pada soal 4 menurun guru sengaja mengurangi jumlah kotak dan memberikan pertanyaan yang hampir mirip dengan pertanyaan 4 mendatar untuk mengetes pengetahuan peserta didik. Hasilnya peserta didik menyadari bahwasanya jumlah kotak yang disediakan tidak sesuai dengan jawaban. Hal ini menandakan peserta didik cukup memahami materi pembelajaran.

Kelebihan Disruptive Innovation Learning:
1. Pembelajaran tidak perlu tatap muka langsung (Pembelajaran Online).
2. Waktu pembelajaran sesuia keinginan guru dan peserta didik.

Kekurangan Disruptive Innovation Learning:
1. Ukuran file yang dapat dikirimkan terbatas
2. Pada saat mengirimkan file evaluasi, peserta didik tidak dapat membuka file evaluasi

INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN INOVASI GURU DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Cybergogy merupakan teori dan praktik mengajar di dunia virtual. Ada lima indikator pada cybergogy, yaitu: Belajar mandiri berbantuan ...